guruhugo.id
  • TERAS
  • CERITAKU
    • ADE 2015
    • Pemikiran
    • Workshops
  • TERAS
  • CERITAKU
    • ADE 2015
    • Pemikiran
    • Workshops

PEKERJAAN RUMAH BERKUALITAS

9/19/2018

0 Comments

 
Picture
“Mana Pe-Er-nya?”
“Ini”
“Hanya ini?”
“Nggak lah, ini masih ada dua halaman lagi”
“Oh, itu saja?”
“Nggak lah, ini cuma satu pelajaran. Masih ada yang lainnya”
​“Berapa lagi?”
“Tiga”
“Dikumpulkan kapan?”
“Besok”

Lalu saya melihat semua Pe-Er alias PR alias Pekerjaan Rumah dari sekolah anak-anak. Melihat semua pekerjaan rumah tersebut, saya jadi teringat pekerjaan di kantor yang belum selesai. Pekerjaan kantor yang belum selesai itu masih dapat menunggu. Sementara PR anak-anak ini tidak bisa menunggu esok hari. Esok hari semua pekerjaan itu sudah harus selesai. Diberi hari ini; selesai hari ini; dikumpulkan esok hari. Bentuk pekerjaan rumahnya? Pertanyaan demi pertanyaan dan drill demi drill. Saya tercenung sendiri. Sepertinya hidup saya sebagai seorang karyawan lebih ringan daripada anak-anak ini.

Apa yang kita kejar dalam dunia pendidikan kita ini? Keberhasilan angka atau kemampuan berpikir merangkai semua hal yang ada di sekitar kita? Apakah pendidikan mengejar ratusan bahkan ribuan soal yang bisa dikerjakan siswa dengan benar? Atau pendidikan mengejar ratusan bahkan ribuan kemungkinan akan jawaban atas soal-soal yang menjadi tantangan masa depan? Apakah pendidikan kita akan mengulang pola yang dilakukan di dalam kelas di tahun 80-an kepada generasi yang sama sekali tidak memahami apa itu analog?

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Saya melihat hidup ini tidak melulu mengenai hal matematis. Tentu juga, hidup ini bukan melulu suatu reaksi kimiawi atau gejala fisika, atau dampak sosial dan juga bukan semuanya tentang ketatanegaraan. Bukankah pada ujungnya, kita diminta untuk menjadi manusia seutuhnya yang berakal budi? Yang menurut hemat saya, manusia yang berakal budi berarti manusia yang menggunakan pikirannya untuk melakukan hal yang terbaik yang belum tentu dapat dilakukan sendiri.

Seperti biasa, saya mulai bertanya lagi. Ada nggak sih misalnya PR Matematika yang masih bersifat drill (latihan) tetapi disampaikan secara keseharian? Misalnya daripada meminta anak mengerjakan 326 x 27 - hanya dalam bentuk angka - menjadi sebuah cerita keseharian atau model cerita yang anak-anak suka - semacam petualangan? Jadi bisa menjadi seperti di bawah ini:
“Ari mengintai para penjahat. Pertahanan mereka kuat sekali. Ada 8 sudut yang dijaga. Masing-masing sudut dijaga 14 orang. Setiap orang membawa 2 tongkat besi. Beberapa orang memakai alat komunikasi jarak pendek. Ari mulai menghitung ada 7 orang di setiap sudut yang memakai alat komunikasi. Beberapa saat mengintai, Ari segera mundur. Dia harus melaporkan semua pengamatannya ke markas”.
Nah, sekarang kamu bantu Ari untuk membuat laporannya. Mulailah dengan berapa total jumlah penjahat? Coba gambarkan perkiraan bentuk bangunan milik penjahat, dan seterusnya.

Sebagai seorang ayah yang senang membacakan cerita atau mendongeng untuk anak-anak, saya melihat bahwa pelajaran sejarah pun bisa dibawakan dalam bentuk cerita. Sangat mungkin terjadi bahwa para guru sejarah masa ini bukanlah pelaku sejarah di masa lalu. Apalagi ketika harus membawakan pembahasan tentang masa di mana hanya kakek nenek yang mengalami. Tapi bukankah kita bisa membawakannya dalam bentuk cerita di mana bisa “dibumbui” analisa-analisa kita? Atau bahkan bisa memancing analisa para siswa? Sebelum anak-anak tidur, saya sering bercerita tentang nenek moyang kami yang turut berjuang jauh di masa kerajaan. Dengan jujur saya menngatakan kepada anak-anak bahwa cerita yang saya sampaikan adalah cerita turun temurun yang bisa saja sedikit berubah karena “bumbu-bumbu”. Hal yang saya garis bawahi adalah memang nenek moyang mereka adalah pejuang. Harapan besar adalah agar kita para penerusnya juga menjadi pejuang untuk kebaikan bersama. Mengena bukan?

Mari kita para pendidik mulai berpikir untuk memberikan pekerjaan rumah yang berkualitas. Pekerjaan rumah yang memberikan waktu untuk anak-anak berefleksi, bereksplorasi dan bekerjasama. Bukan berarti tidak ada latihan-latihan pertanyaan, melainkan bagaimana kita menyampaikan semua pertanyaan itu secara lebih berkualitas. Pendek kata, tidak semuanya harus dibungkus dalam lembaran-lembaran latihan soal melulu, bukan?


Salam pendidikan,



Hugo Indratno

0 Comments



Leave a Reply.

Powered by Create your own unique website with customizable templates.