guruhugo.id
  • TERAS
  • CERITAKU
    • ADE 2015
    • Pemikiran
    • Workshops
  • TERAS
  • CERITAKU
    • ADE 2015
    • Pemikiran
    • Workshops

DALAM LINGKARAN PEMBELAJARAN DARING

4/23/2020

0 Comments

 
Picture
Ki Hajar Dewantara dengan semboyan pendidikannya yaitu “Ing ngarso sung tuladha”, “Ing madya mangun karsa”, dan “Tut wuri handayani” meletakkan satu kekuatan dalam pendidikan Indonesia. Secara harfiah  “Ing ngarso sung tuladha” dapat diartikan bahwa seorang pendidik - atau siapapun yang melakukan kegiatan mendidik - seyogyanya memberikan contoh di depan mereka yang dididik. Sementara “Ing madya mangun karsa” dilihat sebagai pendampingan kepada anak didik dalam proses belajar. Yang terakhir, “Tut wuri handayani” memberikan gagasan pendidik untuk mendorong dan menyemangati anak didik menjalankan keinginan baik mereka sebagai buah dari pendidikan yang didapat. Gagasan Beliau secara sederhana bisa diaplikasikan dalam situasi pandemik Covid-19. 

Situasi pandemik Covid-19 yang melanda dunia dan khususnya Indonesia membawa dampak bagi kita sebagai pekerja formal dan non-formal. Apakah kita semua siap? Memang harus diakui bahwa hampir semua sektor pekerjaan tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi situasi ini. Hal tersebut dapat dikatakan sangat wajar. Namun bukan berarti orang yang terlibat dalam semua lini sektor pekerjaan tidak bergerak untuk beradaptasi pun mereka yang bekerja di bidang pendidikan. 

Kebijakan work from home diterjemahkan dalam dunia pendidikan  menjadi learn from home atau belajar dari rumah dengan model pembelajaran online atau daring (dalam jaringan). Pemerintah sangat mendukung keberlangsungan pembelajaran siswa-siswi Indonesia sebagai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pergerakan sosialisasi model belajar dari rumah cukup banyak menghiasi dunia sosial media sebagai salah satu upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Namun begitu, dengan segala upaya yang dilakukan, beberapa hal perlu diperhatikan. Beberapa hal tersebut adalah: kesiapan sekolah, kesiapan orangtua dan siswa, kesiapan jaringan pendukung pembelajaran daring dan kualitas pembelajaran yang disampaikan.

Kesiapan sekolah adalah penerjemahan dari bagaimana sekolah, dalam hal ini pimpinan sekolah dengan dinas pendidikan terkait dan para guru menerapkan kebijakan pembelajaran daring. Dapat dimaklumi ketika sekolah melihat ketuntasan kurikulum sebagai tolok ukur. Hal mendasar yang perlu disadari adalah berefleksi sebelum membuat kebijakan pembelajaran daring sebagai tanggapan atas situasi pandemik ini. Refleksi paling jujur adalah mengakui bahwa situasi ini tidak ideal bagi semua pihak. Mengapa begitu? Pembelajaran daring akan menjadi ideal ketika sekolah memang telah melaksanakannya dalam keseharian seperti banyak memberikan tugas secara online. Tapi, apakah begitu yang terjadi?

Berikutnya adalah kesiapan orangtua. Banyak opini yang menyatakan bahwa orangtua bisa membantu putra-putrinya di rumah dalam mengerjakan pembelajaran daring. Secara jujur, kesiapan, situasi dan kemampuan orang tua sangatlah bervariasi. Tidak semua orangtua bekerja dari rumah saat ini. Pun, apabila mereka bekerja dari rumah, prioritas orangtua akan lebih kepada pekerjaan mereka. Katakanlah ada orang tua yang bisa menyediakan waktu secara utuh, apakah mereka siap untuk menjadi tutor bagi anak-anaknya? Tingkat kemampuan dalam menanggapi instruksi terkandung dalam tugas yang diberikan oleh guru pun beragam. Mungkin para siswa siap dengan tugas-tugas yang diberikan, bagaimana dengan kesiapan orang tua mendampingi para buah hatinya? Hal-hal seperti itu bukanlah meragukan orang tua, melainkan memposisikan situasi yang memang tidak ideal.


Hal lainnya adalah kesiapan jaringan yang mendukung pembelajaran daring. Kesiapan jaringan ini bukan melulu melihat pada infrastruktur jaringan seluler dan internet, melainkan juga yang menuju kepada kesiapan gawai yang dimiliki oleh keluarga masing-masing. Kekuatan ekonomi setiap keluarga mencerminkan prioritas dalam mempersiapkan jaringan mendukung pembelajaran daring. Mereka yang tidak berlangganan layanan jaringan internet di rumah, tentunya akan mengandalkan paket data melalui gawai masing-masing. Belum tentu paket data menjadi prioritas dalam sebuah keluarga mengingat ada yang lebih penting daripada paket data saat ini: kesehatan dan keyakinan bahwa perut anak-anak mereka tidak berteriak kelaparan!

Dalam pembelajaran tatap muka di kelas, sangat memungkinkan bagi guru untuk membantu siswa yang kesulitan. Sementara dalam pembelajaran daring, ada jarak dan ketertundaan waktu dalam merespon tugas dan menanggapi tugas yang dikumpulkan. Sementara ada hal terpenting lainnya yang perlu diperhatikan: kualitas pembelajaran yang disampaikan secara online. Pembelajaran yang disampaikan secara daring, memerlukan guru untuk memberikan instruksi dengan sederhana, membuat desain pembelajaran secara backward design di mana ada contoh ekspektasi dari tugas. Setiap jenjang pendidikan akan mempunyai cara unik masing-masing dalam menjembatani instruksi dalam tugas untuk memastikan bahwa tugas dapat dipahami dan dikerjakan sesuai ekspektasi.
​

Kembali, situasi yang tidak ideal ini bukan menjadi ajang saling menuding ketidaksiapan. Di semua belahan dunia yang terdampak, para pendidik membuat jaringan untuk semakin memperbaiki kualitas pembelajaran daring dengan kemampuan yang dimiliki. Mereka yang memang hanya bisa mengandalkan Short Message Service (SMS) dan Multimedia Message Service (MMS) bisa juga tetap melakukan pembelajaran daring sama seperti mereka yang mendapatkan lokasi tempat tinggal dengan fasilitas internet memadai. Bertolong-tolonganlah adalah hal terbaik saat ini bagi para pendidik untuk tetap menjaga kualitas pembelajaran dan mental belajar para siswa. Saling mengerti bahwa setiap dari mereka yang bekerja mendapatkan dampak dari situasi pandemik ini akan mempermudah komunikasi.


Kembali mengaitkan dengan apa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, “ing ngarso sung tuladha” bahwa kita sewajarnya memberikan contoh bagaimana pendidikan bisa tetap disampaikan dalam situasi tidak ideal. Kemudian “ing madya mangun karso”, para pendidik dan orang tua dalam situasi ini tetap dengan keprihatinan yang ada terus mendampingi putra-putrinya untuk terus mempertahankan semangat belajar mereka. Di akhir ada “tut wuri handayani” yang terus mengingatkan untuk mendorong siswa-siswi bagi para guru dan putra-putrinya bagi orang tua untuk mencari keseimbangan dan kemandirian dalam situasi pembelajaran daring. Dalam ketidakidealan yang terjadi, tidak ada hal lain selain memelihara semangat pendidikan berkelanjutan dalam adaptasi pembelajaran daring!

salam pendidikan Indonesia!



​Hugo Indratno











0 Comments

BERLATIH BERTANYA DAN MENJAWAB

9/20/2018

13 Comments

 
Picture
“Apa yang kamu mau buat?”
“Saya mau buat perahu”
“Oh, perahu”
“Iya”


Percakapan pendek. Ada kesan bahwa masing-masing tahu apa yang dikatakan. Masa sih? Bandingkan dengan percakapan di bawah.


“Apa yang kamu mau buat?”
“Saya mau buat perahu”
“Oh, sudah ada bahannya?”
“Sudah”
“Apa saja bahannya?”
“Ini ada styrofoam, stik es krim, motor kecil dan lem”
“Bagaimana kamu membuatnya?”
“Jadi pertama kali, aku…”


Percakapan ini berlangsung. Ada keterangan-keterangan tambahan berdasarkan pertanyaan yang diberikan. Selain itu semakin banyak visual yang ada di kepala masing-masing, bahkan di kepala Anda yang membaca.

Saya sering dikatakan “cerewet” oleh anak-anak bahkan siswa-siswi. Banyak yang berkata kalau saya banyak tanya. Saya dikatakan seperti itu hanya tersenyum. Mengapa? Karena pada akhirnya, mereka semua “ketularan” banyak bertanya seperti saya.

Lalu mengapa saya bertanya? Jawabannya sangat sederhana yaitu: kejelasan. Boleh saja banyak orang berpikir dan mengatakan bahwa kemampuan bertanya membuat kita kritis. Nah, bukankah menjadi kritis itu karena kita ingin mendapatkan kejelasan atau bahkan menjelaskan segala sesuatu. Bahkan lebih dari itu, dengan bertanya, saya dapat membimbing - paling tidak - diri saya sendiri untuk dapat berefleksi tentang apa yang saya telah lakukan, sedang lakukan dan akan lakukan. Lebih menarik lagi ketika setelah bertanya dan mendapatkan kejelasan, kita dapat memvisualisasikan kejelasan itu dalam bentuk gambar, diagram, tulisan atau paparan presentasi.

Kemampuan membangun pertanyaan didapat dengan berlatih bertanya dan tentu saja berlatih menjawab juga. Anda tentu akan mengerenyitkan dahi ketika pertanyaan-pertanyaan Anda yang bersifat terbuka, dijawab dengan jawaban singkat sekedarnya seperti di bawah ini:
“Bagaimana pengalaman kamu tadi?”
“Hahahaha...seru, seru, seru banget!”
(atau, “asyik banget!”, atau juga “amazing, man!”)
Jawaban-jawaban di atas, pasti Anda sering dengar. Kalau Anda merasa jawaban itu wajar-wajar saja, bisa jadi benar untuk satu percakapan singkat. Namun terlihat kemampuan si penjawab untuk membuat bentuk deskripsi sederhana kurang. Sementara, si penanya juga tidak mengejar dengan pertanyaan lainnya. 
​

Pertanyaan sudah mengarah ke sebuah pertanyaan terbuka, tetapi jawabannya sangat tidak jelas. Bagaimana mengatasinya? Maka si penanya sebaiknya menambahkan pertanyaan tambahan untuk membuat orang yang ditanya menjawab dengan lebih jelas lagi. Kalau jawabannya nggak jelas? Ya, tanya terus saja. Capek? Pasti Anda akan lelah menghadapi mereka yang tidak tahu bagaimana menjawab dengan baik. Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita sebagai penanya harus memperjelas pertanyaan atau memancing dengan pertanyaan dan pernyataan agar jawaban lebih baik lagi. Seperti contoh di bawah ini (perjuangan seorang pewawancara):
“Bagaimana pengalaman kamu tadi?”
“Hahahaha...seru, seru, seru banget!”
“Maksudnya di bagian mana yang seru?”
“Semuanya!”
“Apa kamu suka saat speedboat berbelok dengan cepat?”
“Iya! Itu seperti kebanting, tapi untungnya aku pegangan”
“Bagaimana dengan saat speedboat berpapasan dengan speedboat lainnya, apa perasaanmu?”
“Heboh gitu”
“Maksudnya? Apa was-was begitu?”
​“Iya, takut banget! Itu papasan dekat banget jadi terasa mau tabrakan!”
Dan wawancara berlangsung cukup lama dengan model melempar pertanyaan, memperjelas pertanyaan, dan membimbing penjawab untuk menjawab lebih spesifik. Melelahkan, bukan?

Maka dari itu, berlatih memberikan pertanyaan dan berlatih menjawab pertanyaan sangat penting. Saya berharap semua guru memulainya di kelas-kelas. Mulai dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar apa yang mereka suka, pendapat mereka tentang satu atau dua film atau lagu kesukaan hingga masuk ke dalam pembelajaran. Latihlah juga mereka menjawab pertanyaan dengan memberikan jawaban berkualitas yang bisa menyangkut pendapat, kritikan membangun dan pujian juga.

“Bagaimana menurut Anda tulisan ini?”
(Ingat, jawaban yang berkualitas menyangkut pendapat, kritikan membangun dan pujian juga)


Salam pendidikan,



Hugo Indratno



13 Comments

PEKERJAAN RUMAH BERKUALITAS

9/19/2018

0 Comments

 
Picture
“Mana Pe-Er-nya?”
“Ini”
“Hanya ini?”
“Nggak lah, ini masih ada dua halaman lagi”
“Oh, itu saja?”
“Nggak lah, ini cuma satu pelajaran. Masih ada yang lainnya”
​“Berapa lagi?”
“Tiga”
“Dikumpulkan kapan?”
“Besok”

Lalu saya melihat semua Pe-Er alias PR alias Pekerjaan Rumah dari sekolah anak-anak. Melihat semua pekerjaan rumah tersebut, saya jadi teringat pekerjaan di kantor yang belum selesai. Pekerjaan kantor yang belum selesai itu masih dapat menunggu. Sementara PR anak-anak ini tidak bisa menunggu esok hari. Esok hari semua pekerjaan itu sudah harus selesai. Diberi hari ini; selesai hari ini; dikumpulkan esok hari. Bentuk pekerjaan rumahnya? Pertanyaan demi pertanyaan dan drill demi drill. Saya tercenung sendiri. Sepertinya hidup saya sebagai seorang karyawan lebih ringan daripada anak-anak ini.

Apa yang kita kejar dalam dunia pendidikan kita ini? Keberhasilan angka atau kemampuan berpikir merangkai semua hal yang ada di sekitar kita? Apakah pendidikan mengejar ratusan bahkan ribuan soal yang bisa dikerjakan siswa dengan benar? Atau pendidikan mengejar ratusan bahkan ribuan kemungkinan akan jawaban atas soal-soal yang menjadi tantangan masa depan? Apakah pendidikan kita akan mengulang pola yang dilakukan di dalam kelas di tahun 80-an kepada generasi yang sama sekali tidak memahami apa itu analog?

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Saya melihat hidup ini tidak melulu mengenai hal matematis. Tentu juga, hidup ini bukan melulu suatu reaksi kimiawi atau gejala fisika, atau dampak sosial dan juga bukan semuanya tentang ketatanegaraan. Bukankah pada ujungnya, kita diminta untuk menjadi manusia seutuhnya yang berakal budi? Yang menurut hemat saya, manusia yang berakal budi berarti manusia yang menggunakan pikirannya untuk melakukan hal yang terbaik yang belum tentu dapat dilakukan sendiri.

Seperti biasa, saya mulai bertanya lagi. Ada nggak sih misalnya PR Matematika yang masih bersifat drill (latihan) tetapi disampaikan secara keseharian? Misalnya daripada meminta anak mengerjakan 326 x 27 - hanya dalam bentuk angka - menjadi sebuah cerita keseharian atau model cerita yang anak-anak suka - semacam petualangan? Jadi bisa menjadi seperti di bawah ini:
“Ari mengintai para penjahat. Pertahanan mereka kuat sekali. Ada 8 sudut yang dijaga. Masing-masing sudut dijaga 14 orang. Setiap orang membawa 2 tongkat besi. Beberapa orang memakai alat komunikasi jarak pendek. Ari mulai menghitung ada 7 orang di setiap sudut yang memakai alat komunikasi. Beberapa saat mengintai, Ari segera mundur. Dia harus melaporkan semua pengamatannya ke markas”.
Nah, sekarang kamu bantu Ari untuk membuat laporannya. Mulailah dengan berapa total jumlah penjahat? Coba gambarkan perkiraan bentuk bangunan milik penjahat, dan seterusnya.

Sebagai seorang ayah yang senang membacakan cerita atau mendongeng untuk anak-anak, saya melihat bahwa pelajaran sejarah pun bisa dibawakan dalam bentuk cerita. Sangat mungkin terjadi bahwa para guru sejarah masa ini bukanlah pelaku sejarah di masa lalu. Apalagi ketika harus membawakan pembahasan tentang masa di mana hanya kakek nenek yang mengalami. Tapi bukankah kita bisa membawakannya dalam bentuk cerita di mana bisa “dibumbui” analisa-analisa kita? Atau bahkan bisa memancing analisa para siswa? Sebelum anak-anak tidur, saya sering bercerita tentang nenek moyang kami yang turut berjuang jauh di masa kerajaan. Dengan jujur saya menngatakan kepada anak-anak bahwa cerita yang saya sampaikan adalah cerita turun temurun yang bisa saja sedikit berubah karena “bumbu-bumbu”. Hal yang saya garis bawahi adalah memang nenek moyang mereka adalah pejuang. Harapan besar adalah agar kita para penerusnya juga menjadi pejuang untuk kebaikan bersama. Mengena bukan?

Mari kita para pendidik mulai berpikir untuk memberikan pekerjaan rumah yang berkualitas. Pekerjaan rumah yang memberikan waktu untuk anak-anak berefleksi, bereksplorasi dan bekerjasama. Bukan berarti tidak ada latihan-latihan pertanyaan, melainkan bagaimana kita menyampaikan semua pertanyaan itu secara lebih berkualitas. Pendek kata, tidak semuanya harus dibungkus dalam lembaran-lembaran latihan soal melulu, bukan?


Salam pendidikan,



Hugo Indratno

0 Comments

ORANGTUA ZAMAN SEKARANG

9/18/2018

0 Comments

 
Picture
“Ini dia kisah tentang anak manusia
Ayah Ibu sibuk semua
Cari harta siang dan malam
Anak dimanja dengan uang
Hingga terlupakan kasih sayang..”

(Hura-Hura ciptaan Adjie Soetama dan Chrisye, dinyanyikan oleh Chrisye dalam Album Nona Lisa)

Potongan lagu di atas mungkin masih banyak melekat pada mereka yang lahir di ujung tahun 70-an atau paruh 80-an. Lagu yang dibawakan oleh Chrisye di tahun 1986 itu saya rasa masih cukup relevan hingga saat ini.

Kalau dahulu orangtua sibuk sebatas cari harta siang dan malam, bagaimana dengan zaman ini? Sibuknya mungkin tidak hanya di luar rumah, tapi juga di dalam rumah. Perkembangan teknologi memungkinkan banyak orang untuk bekerja secara tidak sadar melebihi apa yang sewajarnya dilakukan. Kontrak kerja yang menyatakan bekerja dari pukul 08:00 hingga 16:00 menjadi berkepanjangan dengan adanya perkembangan teknologi olah dokumen dan pengiriman pesan instan. Maka tidak heran ketika selesai kerja, layanan pesan Whatsapp dan dokumen berbagi Google masih bermain di bola mata para orangtua ketika ada di rumah. Ah, penulis juga terkadang begitu. Sebuah keterpaksaan atau malah sebuah kecanduan? Atau pekerjaan sudah menjadi bagian dari keluarga, yaitu menjadi “anak emas” kita?

Seperti dua orang sekretaris yang saya wawancarai mengenai waktu yang dipakai untuk pekerjaan di luar jam kerja.
“Ada sih. Kebanyakan di group kecil sekretaris saja. Sekedar memastikan pekerjaan yang telah dikerjakan atau akan disiapkan buat besok”.
“Sedikit-sedikit ada, sih walau tidak urgent”.
Pegawai perusahaan lainnya yang saya wawancarai dengan pertanyaan yang sama menyatakan,
“Biasanya boss kirim request mendadak di luar jam kerja. Pertama kali saya lihat urgensinya. Tapi lama kelamaan boss maunya cepat ditindaklanjuti. Pernah dilimpahkan ke teman, jadi kesannya saya nggak kompeten gitu”.
Di satu pihak, saya menanyakan hal yang sama ke si Boss.
“Ya, gimana ya. Saya sebenarnya nggak enak juga minta mereka melakukan pekerjaan di luar jam kantor. Hanya memang permintaan kebanyakan berasal dari klien perusahaan, jadi sedapat mungkin kita lakukan demi kepuasan klien”.

Tidak dapat disalahkan juga apa yang dilakukan mereka di atas. Lalu saya menuju ke pertanyaan kedua yaitu apakah mereka mengerjakan pekerjaan di luar jam kantor saat bersama anak-anak.
Kedua sekretaris menyatakan hal senada, “ya, mau nggak mau sih. Maka sering saya bilang ke anak-anak buat tunggu saya sedang dimintai tolong kantor”.
“Berapa lama?” saya menyusulkan satu pertanyaan.
“Ya, terkadang 20 - 30 menit. Bisa lama kalau itu membutuhkan kirim dokumen, atau menelepon pihak-pihak lain”.
Sementara pegawai perusahan lainnya tadi, “Wah, tergantung permintaan. Terkadang saya hanya bisa selesaikan di depan komputer 30 menit. Namun ada kalanya saya harus pergi sekitar 2 jam buat bertemu dengan pihak-pihak terkait. Kasihan juga anak-anak. Untung ada isteri”.
Sementara, apa jawaban si Boss?
“Ya, saya punya traffic-nya banyak sekali. Hanya memang setelah saya limpahkan, sering saya cek progress via email atau WA”.
“Bisa konsentrasi ketika bersama anak-anak?” pertanyaan susulan dari saya.
“Hahahahaha….sebenarnya tidak juga. Tapi ada isteri juga”.

Wah, tulisan ini tidak akan berpanjang lebar. Hanya dua hal yang saya ingin garisbawahi yaitu:
  1. Orangtua masih berkutat dengan pekerjaan ketika bersama anak-anak. Memang sih, hasil dari pekerjaan itu untuk anak-anak. Nah, apakah ada cara lain yang bisa kita tempuh sebagai orangtua untuk tetap menunjukkan kasih sayang selepas jam kerja?
  2. Menarik sekali ketika ada dua pernyatan melibatkan “Ada Isteri”. Apakah semuanya mengenai anak-anak harus dilimpahkan kepada isteri? Bagaimana dengan isteri yang bekerja?

Jelas sekali bahwa tulisan ini bukan untuk membuat batas benar atau salah, melainkan untuk membuat kita semua sebagai orangtua lebih terbuka mata hatinya. Mata hati kita sebagai orangtua bekerja dengan memiliki anak-anak yang membutuhkan perhatian di saat kita sedang tidak bekerja. Pasti setiap keluarga ada cara masing-masing, bukan?

Salam pendidikan,



Hugo Indratno


0 Comments

FRESH GRADUATE BERPENGALAMAN!

9/17/2018

0 Comments

 
Dalam CV saya sekian belas tahun silam, tertulis pengalaman kerja selama 3 tahun. Sedikit aneh karena saya baru saja lulus. Namun, kenyataannya memang begitu dan bukan sebuah kebohongan. Bagaimana bisa begitu? Kata kuncinya berkaitan dengan waktu. Ada dua hal yang saya lakukan, yaitu: 1) Atur waktu, 2) Paruh waktu.


Ya! Ketika saya menginjak semester enam, dimulailah pengalaman kerja itu. Saya memulai dengan hal pertama: Atur waktu. Seperti yang kita semua tahu bahwa kuliah tidak memakan waktu kita dari Senin - Sabtu dengan jadwal yang sama. Ada kalanya di hari-hari tertentu jadwal kuliah hanya terisi 1 atau 2 slot. Itu pun bisa hanya di pagi atau siang atau bahkan sore hari. Nah, mulailah saya berpikir untuk mengatur waktu agar saya bisa bekerja. Ya! Be-ker-ja!

Tentu saja saya tidak akan menjadi seorang pekerja purna waktu. Saya memulainya dengan menjadi pekerja paruh waktu. Setelah melihat jadwal kuliah dan kesempatan yang ada, maka saya mengambil sekaligus dua pekerjaan! Pertama, saya bekerja di hari Sabtu saja sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar. Saya mengajar kelas 4 sampai dengan 6 di hari itu. Kebetulan sekali saya tidak memiliki jadwal kuliah di hari Sabtu. Masih ada satu pekerjaan lagi!

Pada waktu itu, di kampus ada lowongan petugas informasi pendaftaran mahasiswa baru. Menariknya, itu adalah pekerjaan paruh waktu. Petugas informasi hanya akan memberikan pelayanan selama 2-3 jam bergantian. Saya mendapatkan pekerjaan itu. Dalam prosesnya, pihak kampus menanyakan jadwal kuliah saya. Jadwal menjadi petugas informasi diberikan di sela-sela jadwal kuliah. Senangnya mendapatkan jadwal di mana saya bisa bekerja paruh waktu selama 3 jam setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Hal kedua dalam daftar terpenuhi: paruh waktu!

Bekerja sebagai guru Bahasa Inggris dan sebagai petugas informasi cukup berbeda. Namun begitu, ada kesamaan juga. Keduanya membutuhkan skil berkomunikasi yang baik. Keduanya juga mengajarkan saya untuk menyadari bahwa saya adalah representasi sebuah institusi. Artinya, penampilan, tutur kata dan gerak-gerik saya juga harus seirama dengan institusi tersebut. Konsekuensinya, saya harus berpenampilan rapi, bertutur kata sopan dan juga merespon semua hal dengan sangat positif. Secara tidak langsung, saya mengasah diri untuk siap memasuki dunia kerja.

Pendek cerita, saya menjalani banyak pekerjaan paruh waktu sebelum lulus kuliah. Pekerjaan-pekerjaan yang di kemudian hari saat ijazah kelulusan saya terima, telah menghiasi CV saya menjadi cukup panjang untuk seorang yang baru saja lulus. Mendapatkan uang tambahan tentu saja menjadi satu kesenangan. Namun begitu, hal paling mendasar adalah kesiapan bekerja dan juga kemampuan mengatur waktu mengasah diri menjadi profesional di masanya. Nah, buat Anda yang masih menjadi mahasiswa, ayo mulai atur waktu untuk bekerja paruh waktu!

salam,


Hugo Indratno



0 Comments
<<Previous
Powered by Create your own unique website with customizable templates.